Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kau dengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kau tolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan sehingga aku mamandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. Habakuk 1:2
K
erusuhan di Jakarta, dukun santet di Banyuwangi, pembakaran gereja di Ketapang, kerusuhan Medan, perusakan masjid di Kupang, kerusuhan di Ambon dan masih banyak lagi. Seakan tidak habis-habisnya kejahatan dan ketidakadilan terjadi di depan mata kita. Ketika kita melihat situasi pada saat ini, kita merasa tidak rela semuanya itu terjadi. Saat kita berada pada kondisi semacam ini, kita mungkin juga tidak bisa menerima dan akan bertanya seperti nabi Habakuk. Pada saat itu Habakuk melontarkan dua pertanyaan di atas yang saat ini mungkin juga menjadi pertanyaan kita.PROBLEMATIKA MANUSIA
1. "Berapa lama lagi?"
Ketika seorang Kristen mulai belajar mengerti sifat Allah dan keadilan Allah, acapkali ia tidak mampu lagi merelasikan pengertiannya akan keadilan Allah dengan realita ketidakadilan dunia ini. Hal seperti inilah yang dialami oleh Habakuk. Habakuk cukup lama melihat keadaan Yehuda dengan segala kefasikannya. Kalau ia sudah hidup sejak zaman Yosia, lalu nubuat itu terjadi di zaman pemerintahan Yoyakhim, maka kita melihat cukup lama Habakuk mengamati keadaan bangsanya yang semakin lama semakin kurang ajar. Kejahatan yang muncul semakin lama semakin menggila, kelaliman semakin lama semakin berani. Berbagai penindasan muncul, aniaya dan kekerasan mewarnai kehidupan sehari-hari, Habakuk sulit bertahan lebih jauh lagi. Sangatlah wajar jika kemudian Habakuk mulai bertanya kepada Tuhan, "Berapa lama lagi?"
Jika saat ini keadaaan di sekitar kita sedikit agak tidak beres, mungkin kita masih dapat menerimanya. Bahkan ketika kita melihat ketidakadilan dan kefasikan terjadi, terkadang kita masih bisa bersabar dan seolah-olah kita mengerti kalau Tuhan belum bertindak. Tetapi jika intensitas ketidakberesan itu semakin lama semakin meningkat dan berlangsung hingga beberapa tahun, kita mungkin tidak tahan dan berusaha melakukan penghakiman menurut keinginan kita. Kita menuntut Tuhan harus bertindak sekarang, seolah-olah pikiran kita bisa melampaui apa yang Tuhan kehendaki. Padahal kedaulatan Tuhan jauh melampaui apa yang kita pikirkan dan Tuhan bukanlah budak kita, yang harus menuruti keinginan kita.
Bila kita diperhadapkan pada situasi seperti ini, kita mungkin tidak sabar dan ingin segera melihat kejahatan itu dibalas oleh keadilan Allah yang maha dahsyat. Pada saat ini mungkin kita akan bertanya: "Kalau Engkau Allah yang hidup dan ada, mengapa Engkau tidak bertindak? Mengapa Engkau terus-menerus menunggu? Apakah Tuhan lupa bertindak? Ataukah Tuhan tidak mampu lagi bertindak? Jika mampu, harus menunggu berapa lama lagi?"
Dari sini kita belajar bahwa waktu Tuhan adalah waktu Tuhan, waktu kita adalah waktu kita! Kalau kita mau bertindak, bergumullah dahulu dengan Tuhan, mengertilah kehendak Tuhan, dan sadarilah realita yang sesungguhnya. Ingatlah bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa atas realita. Jangan mendahului Tuhan, sebab hasilnya akan terlalu parah! Marilah kita belajar seperti Habakuk, mau bergumul dengan Tuhan dan tahu di mana posisi kita serta bagaimana kita seharusnya bertindak melalui taat kepada pimpinan-Nya.
Itulah sebabnya Habakuk bisa berkata "Dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan" (3:16). Ayat ini mengungkapkan kesiapan hati Habakuk di dalam menyongsong hari itu, yang pada akhirnya, Habakuk melihat sendiri apa yang Tuhan kerjakan. Tuhan menjatuhkan tangan-Nya atas bangsa Israel, walaupun Habakuk sendiri turut terkena akibatnya. Ini terjadi kira-kira dua belas tahun kemudian, yakni pada tahun 597 SM.
Dalam kondisi yang semacam itu kita mungkin jengkel dan panik. Tetapi sebagai anak-anak Tuhan marilah kita belajar untuk meneduhkan diri, mengerti dan menyerahkan kedaulatan ke dalam tangan Tuhan, belajar untuk mendengar suara Tuhan, dan berjalan seperti apa yang Tuhan inginkan. Bukan berarti kita kemudian menjadi pasif, tetapi pada saat itulah Tuhan menuntut kita untuk proaktif. Bukan aktif yang membabi-buta, tetapi aktif yang tunduk di bawah kedaulatan Allah.
2. "Mengapa Engkau memperlihatkan kejahatan kepadaku?"
Setelah melontarkan pertanyaan pertama, kemudian Habakuk melontarkan pertanyaan kedua "Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman?" (1:3). Pertanyaan ini juga sangat manusiawi, akan tetapi muncul dari konsep teologi yang salah atau kurang menyeluruh. Kita seringkali berpikir: "Sebagai anak-anak Tuhan, seharusnya kita tidak boleh mengalami kejahatan. Jangankan mengalami, melihat pun tidak layak. Tuhan tidak boleh membiarkan anak-anak-Nya mengalami hal seperti itu. Semua penderitaaan dan kefasikan hanya boleh dialami oleh orang lain, tetapi bukan anak-anak Tuhan."
Salah satu bahaya besar yang tanpa sadar tertanam di dalam diri orang Kristen adalah anggapan bahwa tidak mungkin orang Kristen melihat kejahatan, karena Tuhan orang Kristen itu Maha Adil dan Maha Baik. Kita berpikir, kalau sudah percaya Tuhan dan menjadi umat kesayangan Tuhan, pasti akan dijaga dan tidak mungkin melihat (apalagi mengalami) kejahatan. Berarti kita akan dihindarkan dari semua itu. Akitabnya, seringkali muncul teriakan, "Tuhan, mengapa aku, yang sudahmenjadi umat-Mu, harus mengalami hal-hal pahit seperti ini?"
Kita perlu sadar, bahwa Tuhan Yesus sendiri sudah menyatakan dan memberi contoh bahwa Ia menderita ketidakadilan dari orang fasik, sampai harus disalibkan tanpa dosa. Dan Ia juga memberitahukan bahwa jika murid-murid-Nya juga mengalami hal seperti itu, mereka tidak perlu heran atau panik, karena memang sedemikianlah orang fasik sudah memperlakukan Tuhan Yesus (Yohanes 15:18-25). Itu berarti murid-murid Kristus pun tidak luput dari kemungkinan tersebut. Tidak ada jaminan bahwa anak-anak Tuhan tidak akan mengalami kesulitan, penderitaan, penganiayaan dan berhadapan dengan orang-orang fasik.
Pada waktu Habakuk melihat kejahatan itu, seharusnya ia mengerti siapa dirinya dan mengerti realita yang ada. Habakuk harus tahu bahwa dia adalah orang benar yang berada di tengah-tengah orang-orang fasik yang lebih gila daripada binatang. Orang Kristen bagaikan domba di tengah-tengah serigala yang siap menerkam. Inilah realita yang harus ia mengerti dan harus ia terima. Pada waktu itu Habakuk justru tidak rela menerima realita ini.
Ketika Habakuk bertanya:"Tuhan mengapa saya harus melihat hal seperti ini?" Tuhan dapat balik bertanya: "Mengapa kamu tidak harus melihatnya? Bukan saja melihat, tetapi kamu bahkan akan turut mengalami!" Pada akhir pasal yang ketiga, Habakuk sadar bahwa dia bukan hanya melihat, tetapi juga akan mengalaminya. Walaupun seluruh kehidupan sudah tidak lagi mempunyai harapan, seluruh hasil ladang sudah habis, hasil untuk makanan tidak ada, lembu sapi untuk makanan mereka juga telah terhalau semua, Habakuk masih dapat berkata bahwa kalau ia harus mengalaminya, ia akan siap untuk tetap bersorak-sorak di hadapan Tuhan. Inilah yang seharusnya juga menjadi sikap kita. Tetapi sebelum sampai ke kalimat terakhir ini, ada pergumulan berat yang dihadapi oleh Habakuk bersama dengan Tuhan. Ia bertanya dan berusaha mengerti realita yang terjadi. Hal itu memang masih merupakan kesulitan yang besar baginya. Oleh karena itu, Tuhan perlu memberikan beberapa jawaban dan pengarahan, agar Habakuk mengerti prinsip kerja Allah yang dikaitkan dengan realita dunia ini.
Problematik yang terjadi di Indonesia (atau pun di berbagi tempat di dunia), itu nyata; Dan pada saat seperti ini, hukum tidak dapat berbuat apa-apa. Inilah dunia kita! Kalau ada orang benar di dunia ini, mereka hanyalah minoritas di tengah kefasikan dunia. Inilah realita kita! Jangan mau ditipu oleh dunia kita, jangan pernah berpikir kalau dunia kita ini baik. Jangan berpikir dunia kita ini akan semakin maju, karena justru kita sedang merosot menuju kehancuran moral yang luar biasa. Jadi, wajarkah jika orang Kristen sakit? Wajarkah jika orang Kristen kecopetan, diperkosa atau dianiaya? Jawabannya adalah wajar!
RESPON ORANG KRISTEN
Kita telah melihat bagaimana realita kita, maka ada dua hal yang perlu menjadi respon kita:
1. Kita harus bersyukur kalau sampai hari ini Tuhan masih memberikan kesehatan, keamanan, pekerjaan dan makanan. Hari ini banyak sekali orang Kristen, yang ketika berada di dalam keadaan senang dan lancar, tidak pernah bersyukur kepada Tuhan, tetapi ketika mengalami kecelakaan, kebangkrutan, dan sebagainya, merekadengan tidak ada habisnya menggerutu kepada Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan masih memelihara! Karena itu bersyukurlah!
2. Waspadalah dalam menghadapi segala situasi. Salah satu penyebab jatuhnya korban penganiayaan dan pemerkosaan di Jakarta adalah karena ketidaksiapan mereka. Ketidaksiapan juga diakibatkan oleh karena konsep teologis dan pengertian masyarakat yang terbalik dari apa yang dikatakan oleh Alkitab.
Maka, jika kita sudah menyadari hal seperti ini, orang Kristen mau tidak mau harus mengubah konsep yang salah dan bersiap diri menghadapi kesulitan dan penderitaan sebagai seorang penegak dan penyata kebenaran. Bahkan kalau sudah sampai pada kategori ini, kita harus bersiap diri, jika mungkin kita akan menjadi seorang martir.
Tetapi di lain pihak, kita sebagai orang Kristen tidak diajar untuk mati konyol. Kalau kita harus mati, biarlah kematian kita menyatakan pernyataan iman kita dan menunjukkan kemuliaan .Tuhan. Tidak berarti salah kalau kita melarikan diri atau malakukan tindakan preventif lainnya. Tidak ada larangan bagi orang Kristen untuk melarikan diri. Tuhan Yesus pun ketika waktu-Nya belum tiba, tidak membiarkan orang membunuh diri-Nya. Ia segera menyelinap atau melarikan diri dari musuh-musuh-Nya.
Seringkali ada orang-orang Kristen yang terlalu 'gengsi' untuk lari. Dalam kasus ini, kita perlu melihat konteks panggilan Tuhan bagi kita. Kecuali memang Tuhan memanggil kita untuk kita tidak pergi dan menjalankan panggilan Tuhan, maka tidak ada salahnya apabila kita meloloskan diri. Tetapi jika memang Tuhan memanggil kita untuk harus menyatakan diri sebagai saksi Kristus, biarlah melalui tindakan kita, kesaksian iman kita boleh dilihat oleh banyak orang dan membuat orang-orang tersebut harus berhadapan dengan Tuhan sendiri, atau harus bertobat karena kesaksian kita.
Dengan demikian ada beberapa hal yang harus kita kerjakan:
1. Setiap kita harus memikirkan bagaimana relasi kita di depan Tuhan.
2. Tuhan meminta kita untuk dapat menjadi alat Tuhan di tengah-tengah situasi seperti ini. Tidak ada cara lain, kecuali Injil harus dinyatakan di tengah-tengah dunia. Marilah kita menjadi orang-orang Kristen yang bisa menjadi berkat dan kekuatan bagi orang-lain, dengan menyadarkan mereka akan kondisi dari realita manusia yang berdosa, membawa mereka kembali kepada Injil Tuhan dan menyadarkan akan perlunya Kristus sebagai Juruselamat mereka. Hanya dengan cara itulah seluruh problematika moral yang dapat diselesaikan di dalam dunia ini.
3. Mempunyai kewaspadaan dan sikap strategis di dalam menghadapi dunia kita
Marilah kita belajar dari pengalaman Nabi Habakuk di dalam menghadapi krisis, sehingga kita bisa semakin memahami realita dunia ini, sambil menjalankan misi kita sesuai dengan kehendak Allah bagi kita.