MORE LOVE TO THEE, O CHRIST
"Mengapa ini harus terjadi pada kita, pada kita semua?" tanya Elizabeth Prentiss kepada suaminya, yang adalah seorang penginjil, seraya air mata jatuh membasahi pipinya.
"Mungkin kita harus bertanya pada diri kita sendiri, mengapa hal seperti ini tidak harus terjadi pada kita? Apakah kita lebih baik dari keluarga-keluarga lain yang juga kehilangan orang yang dikasihinya dalam epidemi* ini?" tanya suaminya, dengan rasa dukacita pula. "Apakah Tuhan berhutang kebaikan kepada kita sedangkan dengan keluarga lain tidak? Ataukah Tuhan sedang bermain-main dengan manusia?"
Elizabeth menutupi wajahnya dengan tangannya dan menangis lama, sampai akhirnya ia merasa tidak ada air mata yang dapat ditumpahkan lagi. Ia berpikir tentang segala yang telah dilakukannya sampai waktu kematian itu datang, tiba-tiba dan cepat, mengambil orang yang ia cintai.
Terlahir di Portland, Maine, sebagai anak perempuan seorang hamba Tuhan yang setia, Elizabeth menunjukkan talenta yang besar dalam bidang literatur. Ketika berusia 16 tahun, secara teratur ia berkontribusi dalam salah satu majalah besar, "The Youth’s Companion" yang diterbitkan di Boston. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia mengajar di sekolah selama beberapa tahun. Dalam usia 27 tahun ia menjadi pengantin perempuan dari Pdt. George L. Prentiss dan pindah ke New York, ke tempat suaminya melayani di Mercer Street Presbyterian Church.
Setelah 11 tahun pernikahan mereka, pada tahun 1856, terjadilah tragedi itu, mengambil orang yang paling dikasihi mereka, seorang anak. Selama berminggu-minggu ia hampir tidak dapat dihibur, meragukan ketulusan iman Kristianinya dan kepercayaannya akan pemeliharaan Allah. Anggota-anggota jemaatnya menunjukkan kasih dan pengertian mereka. Mereka menghibur pendeta dan istrinya itu selama hari-hari penderitaan mereka.
"George," katanya dalam sore ketika mereka pulang dari pemakaman, "’malam itu begitu gelap dan aku jauh dari rumah.’ Apa yang dapat kita lakukan sekarang? Hanya duduk diam dengan pasif, sementara rumah kita terceraiberaikan, hidup kita rusak, harapan kita hancur, mimpi kita lenyap?"
Suaminya menjawab dengan kasih, "Ini adalah kesempatan kita untuk menunjukkan dalam hidup kita apa yang telah kita kotbahkan, dan ajarkan, dan percayai selama bertahun-tahun ini."
"Kadangkala aku berpikir tidak dapat bertahan untuk hidup dalam beberapa waktu lagi, apalagi selama sisa hidupku. Tetapi di waktu seperti inilah Tuhan mencintai kita lebih, sama seperti kita mencintai anak-anak kita lebih ketika mereka sakit atau bermasalah atau ketika mereka berada dalam penderitaan," lanjutnya.
"Yesus berkata, ‘Dalam dunia kamu menderita menganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.’ Penderitaan itu ada untuk digunakan dan dikuasai bagi kemuliaan-Nya. (Yoh. 16:33)"
Setelah beberapa menit dalam keheningan, Elizabeth mendongakkan kepalanya dan berkata, "Aku ingat satu kalimat yang kau gunakan dalam kotbah minggu kemarin. Kalimat itu sangat membantuku selama hari-hari yang penuh cobaan ini."
"Kalimat apakah itu?" tanya suaminya.
"Kau berkata beberapa kali ‘Kasih dapat menjaga jiwa dari kebutaan.’"
"Dan hal itu benar, Sayangku. Semakin kita mengasihi Tuhan yang kita kenal dalam Yesus, semakin besar pula mujijat kesembuhan-Nya masuk dalam hati kita. Semakin kurang kita mengasihi-Nya, semakin kecil pula kesempatan bagi kita untuk bertahan dalam kesengsaraan dan penderitaan kita karena kehilangan."
Ketika suaminya keluar untuk melakukan beberapa penggembalaan sebelum makan malam, Elizabeth duduk di ruang keluarga, mengambil Alkitabnya dan membaca beberapa bagian. Terkadang ia membaca perlahan, terkadang dengan keras supaya suara dari bibirnya itu dapat menguatkan imannya. Kemudian dia menutup Alkitabnya dan mengambil buku pujian, mencari penerangan dan penghiburan dari pujian himne yang merefleksikan kesusahan dan kemenangan dari saudara seiman lain yang mengalami kondisi yang sama. Ketika ia menemukan lagu ‘Nearer My God to Thee’, ia membacanya dengan keras beberapa kali, berdoa dalam hatinya supaya pengalamannya ini dapat membuatnya seperti Jacob, yang menjadi manusia baru mulai dari hari kesusahannya itu. Suatu ritme bait-bait kalimat muncul di pikirannya ketika ia berdiam diri dan berdoa. Lalu secara tanpa sadar dan tanpa banyak usaha, ia mulai menuliskan beberapa baris kalimatnya dalam pola berirama seperti yang Sarah Adams gunakan dalam menulis versi Jacob at Bethel.
Puisinya dimulai dengan:
Ia menyelesaikan empat bait pada sore itu, tetapi tidak ditunjukkan kepada suaminya sampai 30 tahun kemudian. Himne ini pertama kali dicetak dalam selebaran pada tahun 1869, dan dalam sebuah buku himnal pada tahun berikutnya, 1870.
Meskipun ia menulis 5 buku sebelum kematiannya pada tahun 1878 di usianya yang ke-60, satu dari kelima bukunya itu, "Stepping Heavenward", menjadi buku yang paling laris, yang tinggal di hati orang-orang Kristen.