Mengapa,
Mengapa Semua Ini Terjadi?
Kita baru saja mengakhiri tahun 1998 dengan penuh tanda tanya dan ketidakpastian karena segala kenangan pahit, mulai dari kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei, kasus Semanggi, peristiwa dukun santet, kerusuhan Ketapang dan Kupang. Peristiwa-peristiwa itu mencekam, mengejutkan dan memporakporandakan nurani, rasio dan mungkin pengharapan kita sepanjang tahun yang lalu. Mungkin kita, pribadi lepas pribadi berharap agar di tahun baru ini semuanya akan segera berakhir. Namun apakah benar demikian? Sampai saat ini kita masih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang mengungkapkan ketidakpastian dan keraguan kita. "Bagaimana dengan tahun 1999?" "Apa yang akan terjadi di tanah air kita?"
Awal tahun 1999 ini kita kembali dikejutkan dengan serentetan kerusuhan Ambon, Sambas, yang seolah-olah tidak mengenal batas waktu, wilayah dan situasi. Mungkin muncul kembali pertanyaan dalam pikiran kita, "Mengapa, mengapa semuanya ini masih terjadi?"
Redaksi Talenta sadar bahwa kita semua mengalami ketakutan, kekhawatiran akan masa depan, dll. Namun sebagai anak-anak terang, kita juga dituntut untuk menjadi terang yang menyala dalam kegelapan, garam yang menggarami lingkungan; Bukan sekedar menjadi seorang yang pasrah dan berkata, "...Ya, akhir jaman...". Kita harus peka dengan keadaan yang ada.
Kami mengadakan wawancara dengan beberapa anak Tuhan di PO, dari antara angkatan '86 sampai angkatan '98. Hal ini menggambarkan respon dan tindakan mereka yang wajar sebagai manusia, namun tetap harus teguh sebagai anak Allah.
Kami berharap wawancara ini dapat memberikan inspirasi untuk melakukan tindakan praktis yang positip, yang dapat dilakukan dalam keadaan bangsa seperti saat ini. Semoga melalui kesadaran kita, kita diberikan beban yang semakin besar untuk bertindak dan berjuang untuk menyatakan iman kristiani kita di tengah-tengah bangsa yang sedang bingung ini.
Pertanyaan yang diajukan:
Robin M. Yuana (TI '98)
Namun saya percaya semua yang telah terjadi berada dalam penglihatan-Nya dan Ia mempunyai rencana besar atas negeri ini dan mengajak kita untuk turut mengambil bagian di dalamnya. Apapun yang telah dan sedang terjadi di negeri ini, Allah ingin kita tetap tenang menghadapi semua ini karena apabila kita telah tahan uji, Ia akan menyediakan mahkota bagi kita. Tetaplah di dalam jalan Allah, jangan terbawa arus. Ingat 1 Petrus 5:7 yang berkata, "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."
Bila ada di antara kita yang ikut terlibat dalam percaturan politik negeri ini, dengan segala kerendahan hati, saya ingin mengingatkan, biarlah apa yang kau lakukan senantiasa dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan senantiasa memohon hikmat yang benar dari Tuhan. Kepada kita yang hanya menikmati keadaan politik negeri ini, biarlah kita tetap optimis bahwa segalanya akan berjalan lancar karena Tuhan yang ikut campur tangan dan tetaplah berdoa dan bekerja keras, tanpa menghiraukan isyu-isyu yang ada, namun tetap selektif dalam menangkap informasi-informasi yang ada. Tetaplah berharap kepada Allah dan jangan bimbang hatimu, karena semuanya memang harus terjadi. Di tengah keadaan dan situasi ini tetaplah kita saling memperhatikan dan mengasihi sesama kita dengan perbuatan. Jangan takut karena Allah beserta kita. Tuhan memberkati kita semua.
Benny
(TK ’97)Devy Matthias Teja Sukmono (MI ’98)
Yoanto
(MI '95)Elny Gunawan
(MI’96)Menurut pikiran saya, Allah sedang memulihkan bangsa ini dengan menghancurkannya terlebih dahulu supaya terlihat mana yang benar dan yang salah. Allah tetap memelihara anak-anak-Nya.
2. Tindakan sebagai anak-anak Allah di tengah-tengah kondisi bangsa yang sulit ini:
Keadaan politik bangsa kita sangat tidak menentu dan mudah memanas oleh hal-hal/peristiwa kecil. Jika melihat sikap pemerintah yang tidak berwibawa dan tidak konsisten, serta para penguasa dan partai-partai politik yang asyik saling menuding dan berebut kekuasaan, membuat sebagian besar masyarakat (termasuk saya) pesimis keadaan bangsa kita dapat menjadi normal setelah pemilu nanti. Mungkin memerlukan waktu beberapa tahun untuk memulihkannya, dan saatnya akan tiba nanti....
Bagaimana seharusnya seorang anak Tuhan peka terhadap keadaan politik bangsa? Menurut saya kita harus memasang mata dan telinga – buka hati dan pikiran, lihat kanan kiri, adakah yang bisa dibantu? Bantulah. Adakah yang bisa dikerjakan? Kerjakanlah.
Thompson S. Ngoen (Alumni, angkatan '86)
1. Setahun terakhir ini Indonesia menjadi tempat yang tidak nyaman untuk dihuni. Pelanggaran hak asasi manusia terjadi susul-menyusul. Angkara murka berlangsung dengan jayanya, melecehkan dan menganiaya kebenaran. Seakan-akan di negeri ini tidak ada lagi Allah.
Sejak tragedi medio Mei 1998, banyak isu dan ramalan yang seram-seram. Terakhir ada paranormal yang mengaku sinting/gendeng/gila meramalkan akan terjadi kerusuhan/pembunuhan besar-besaran pada tanggal 27-29 Januari 1999. Sekarang telah hampir dua bulan melewati bulan januari dan apa yang diramalkan tidak terjadi. Juga ramalan-ramalan lainnya. Memang angkara murka berlangsung dengan giatnya, tapi kita melihat bahwa Allah tetap berkuasa mengendalikan segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang boleh terjadi jika tidak diijinkan Allah. Provokator yang bergentayangan mengingatkan kita kepada Firaun dan raja Babel.
Sekiranya Sadrakh, Messakh, dan Abednego menghindari melanggar perintah raja Nebukadnezar, maka mereka tidak akan pernah mengalami penyertaan Allah dalam perapian yang menyala-nyala. Sekiranya Daniel berhenti berkomunikasi dengan Allah-Nya selama sebulan demi raja Darius, dia tidak akan pernah merasakan penyertaan dan perlindungan Allah dalam gua singa. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Matius 10:29-31).
Isu begitu mencekam namun kita hidup dalam iman kepada Kristus Yesus.
2. The life must go on, hidup ini harus berjalan terus, walaupun ada gangguan. Jangan biarkan waktu terhilang begitu saja. Yang penting kita harus lebih bijaksana. Bila diberitahu telah terjadi kerusuhan di suatu tempat, tidak usah pergi ke tempat itu dulu. Jika diberitahu di jalan itu sering ditaburi paku, kalau bisa hindarilah jalan itu. Jika diberitahu bahwa lebih sering terjadi kriminalitas pada malam hari, kurangilah ke luar rumah pada malam hari jika tidak/kurang penting.
Christine Anna (TI '97)
Pertama saya merasa bersyukur pada Tuhan karena walaupun keadaan bangsa Indonesia buruk, namun tidak langsung hancur, sehingga ada kesempatan bangsa Indonesia untuk berbalik ke jalan yang benar. Saya juga merasa prihatin akan keadaan bangsa ini, terutama kepada korban-korban dari keadaan bangsa ini. Soal iman, saya pribadi tidak dapat menilai berapa besar iman saya, yang jelas saya percaya saya tidak akan mengalami hal yang di luar kemampuan saya, sebab Tuhan telah berjanji demikian (1 Kor. 10:13). Tetapi sebagai manusia, terkadang rasa takut dan kuatir itu ada. Namun, Puji Tuhan, itu bukan yang paling dominan. Saya merasa kita perlu berdoa agar Tuhan menegur orang-orang yang menjadi biang semua ini, supaya mereka sadar, bertanggung jawab dan yang terutama bertobat.
Sebagai anak Allah, sudah selayaknya kita menjadi terang di tengah bangsa ini. Tunjukkanlah terang itu dengan cara yang benar. Jangan sampai terang (lilin) itu malah membakar sekelilingnya. Hal yang paling mudah dilakukan adalah berdoa, sungguh-sungguh berdoa. Soal aksi-aksi mahasiswa, saya pikir kalau itu dilakukan dengan motivasi yang benar, oleh orang-orang yang benar-benar punya visi sama, dengan cara yang benar, hal itu tidak jadi masalah, bahkan bisa digunakan untuk menyampaikan kebenaran-Nya.
-Keadaan politik bangsa kita memang sudah hancur. Tidak jelas mana yang mau benar-benar reformasi atau mana yang bermuka dua. Namun hal ini bukan berarti tidak dapat diperbaiki.
- Dalam menghadapi isu-isu, seorang yang beriman seharusnya tidak ikut-ikutan heboh, misalnya: langsung pulang kampung, beli gas air mata, dll. Seorang yang beriman seharusnya malah berdoa memohon penyertaan Tuhan baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Setelah itu lakukan kegiatan yang memang harus dilakukan, walaupun kewaspadaan juga diperlukan.