KEHENDAK-MU, JADILAH

Gereja Tuhan bukanlah gedung!

Hal ini yang bisa kita saksikan dari kesaksian di bawah ini. Kita bisa melihat bahwa anak-anak Tuhan yang beriman dan berserah kepada Tuhan, itulah yang merupakan esensi gereja. Biarlah kesaksian dari seorang hamba Tuhan yang mengalami peristiwa pembakaran gedung gereja ini mengugah kita untuk mempersiapkan hati kita untuk keadaan terburiuk sekalipun.

Karena tidak percaya pada berita bahwa rumah Tuhan Gereja Kristus Ketapang telah dibakar massa, saya langsung menuju Jl. Ketapang. Benarlah berita yang tidak saya percayai tersebut. Massa sudah begitu banyak di Jalan Ketapang. Jalan Ketapang sudah diblokir bagi kendaraan yang akan lewat. Saya mencari jalan alternatif, tetapi rupanya jalan itu pun sudah ditutup. Saya berkata kepada petugas, "Izinkan saya melihat gereja saya. Saya seorang pendeta." Petugas memahami keadaan tersebut dan membiarkan saya lewat.

Saya melihat Gereja Kristus Ketapang sudah hampir habis dibakar. Saya menangis tak sanggup menahan kegalauan hati melihat pemandangan yang mengiris hati itu. Beberapa kali saya berkhotbah di sana, dan sekarang habis. "Oh, Tuhan! Oh, Tuhan!", kata hatiku.

Karena berpikir bahwa peristiwa ini bisa merambat ke mana-mana, pk. 13.00 saya pulang ke GKI Perniagaan untuk mengingatkan supaya jemaat pulang. Dan puji Tuhan! Rupanya hamba Tuhan senior sudah menyatakan hal yang sama. Saya mendesak supaya jemaat segera meninggalkan gereja.

Pk. 13.30 semua jemaat dan hamba Tuhan sudah meninggalkan gereja. Di gereja tinggal beberapa orang yang memang bertugas di gereja. Saya sendiri tetap tinggal di gereja karena berpikir seandainya gereja dirusak atau dibakar mungkin saya dapat melakukan sesuatu. Tidak etis rasanya bagi diri saya sendiri jika mengetahui bahwa gereja dibakar dari orang lain.

Pk. 14.00 massa berjumlah ratusan orang yang sudah menyiapkan diri dengan berbagai peralatan memasuki Jalan Perniagaan dan langsung melempari gereja dengan batu-batu yang cukup besar. Mereka mendobrak pintu pagar besi gereja hingga rubuh. Massa masuk ke dalam gereja dan merusak beberapa fasilitas gereja. Kamar mandi diobrak-abrik dan dihancurkan, dan beberapa barang milik gereja dijarah. Kemudian mereka membakar motor vespa milik koster gereja yang berada di bawah tangga utama, menuju ruang kebaktian. Dari kejadian ini nampak jelas bahwa maksud mereka adalah ingin membakar habis gereja.

Massa kemudian mundur teratur karena penduduk sekitar Perniagaan melakukan perlawanan. Pada penyerangan pertamaini ada sesuatu yang sangat ganjil terjadi yang menjadi berkat pada waktu penyerangan kedua. Pada penyerangan pertama itu saya masuk ke kamar mandi wanita untuk mengambil ember berisi air untuk memadamkan vespa yang dibakar. Karena kejadian unik ini saya jadi mengerti tata letak kamar mandi wanita, sehingga ketika kebakaran pada penyerangan kedua/ketiga yang cukup besar terjadi, saya dapat mengambil ember dari sana, walau asap begitu pekat memenuhi gereja dan api sudah di mana-mana.

Sesudah kami membersihkan gereja, suasana sepertinya tenang, walau sebenarnya begitu mencekam karena kami mendengar massa yang lebih besar sedang bergerak menuju Jalan Perniagaan. Saya mengajak seorang pemuda berdoa, memohon Tuhan menjaga gereja-Nya; kalau boleh tidak hangus, namun bukan kehendak kami yang jadi, tetapi kehendak Dia saja.

Pk. 16.00 gerombolan massa berjumlah kurang lebih 500 orang memasuki Jalan Perniagaan. Beberapa orang pemuda gereja mendesak saya untuk keluar dari gereja. Massa langsung melempari gereja dengan dahsyat. Tetapi rupanya sasaran awal mereka bukan GKI Perniagaan, sehingga lemparan itu hanya berlangsung sebentar. Kemudian massa berjalan berduyun-duyun menuju GPIA yang terletak kurang lebih 150 meter dari GKI Perniagaan dan langsung melemparinya.

Pk. 16.30 massa bergerak kembali ke GKI Perniagaan. Sebelum massa berkumpul banyak saya mencoba berbicara dengan seseorang yang vokal (mungkin provokator) dari massa kamar mandi pria, namun hanya ada satu ember. Tidak cukup sebab api cukup besar. Saya masuk ke dalam kamar mandi wanita. Asap yang begitu pekat memedihkan mata dan menyesakkan dada. Saya menahan napas supaya berhasil mengambil ember. Puji Tuhan! Ember berhasil diambil dan segera dilakukan pemadaman manual. Dengan bersemangat, tiga orang muda bahu-membahu bersama saya, satpam dan seorang sopir gereja.

Rasanya malam itu api itu kecil saja kita anggap, namun besoknya tahulah saya bahwa api itu cukup besar. Rupanya mereka mengayunkan belati untuk menusuk saya, tetapi beberapa orang dipakai Tuhan untuk menarik saya, sehingga saya selamat.

Pk. 16.35 massa melempari gereja. Mereka masuk ke dalam gereja, lalu menjarah barang-barang gereja. Saya melihat asap keluar dari dalam gereja. Tahulah saya bahwa bagian bawah gereja telah dibakar. Massa segera berhamburan keluar karena api tersebut. Cepatnya api dinyalakan oleh massa telah menyelamatkan cukup banyak barang gereja dari penjarahan. Dalam hal ini saya melihat perbuatan Tuhan yang sedemikian nyata.

Massa membuat api unggun dari kursi dan meja yang diseret ke jalan di depan gereja. Massa bermain-main di sekitar gereja. Dalam hal ini pun saya melihat tangan Allah bekerja sedemikian nyata, sebab dengan api unggun tersebut massa lupa pada tujuan semula, yaitu untuk meratakan gereja dengan api. Mereka berpikir gereja pasti akan segera habis, tapi ternyata tidak sebab api di bawah gereja tidak berkembang dengan cepat.

Hal ini mengherankan karena yang dibakar massa adalah bagian yang mudah terbakar dan mudah menjalar ke mana-mana, yakni: sepada motor dengan bensin di dalam gereja, ruang percetakan gereja yang dipenuhi dengan kertas, dan toko buku kecil yang sarat dengan bahan-bahan yang mudah terbakar. Pk. 18.10 dua panser datang dan berhasil menghalau massa. Saya bersama beberapa pemuda, satpam dan sopir gereja segera masuk ke dalam gereja untuk memadamkan api. Saya mengambil pot bunga yang terbuat dari ember plastik, namun rupanya bagian bawahnya bocor, sehingga tidak mungkin digunakan. Saya segera masuk mengambil ember ke dalam kamar mandi pria, namun hanya ada satu ember. Tidak cukup sebab api cukup besar. Saya masuk ke dalam kamar mandi wanita. Asap yang begitu pekat memedihkan mata dan menyesakkan dada. Saya menahan napas supaya berhasil mengambil ember. Puji Tuhan! Ember berhasil diambil dan segera dilakukan pemadaman manual. Dengan bersemangat, tiga orang muda bahu-membahu bersama saya, satpam dan seorang sopir gereja.

Rasanya malam itu api itu kecil saja kita anggap, namun besoknya tahulah saya bahwa api itu cukup besar. Rupanya ketika pemadaman dilakukan Allah telah memberi semangat dan kekuatan berlipat ganda kepada kami untuk dapat memadamkan api yang ternyata cukup besar itu.

Tuhan menyampaikan maksud-Nya. Tuhan menjawab doa, "Tuhan, kalau boleh gereja tidak hangus, but not my will be done, but Thy will be done. Amen."